Duga Yang Belum Bernoktah
Keinsafan yang menjengukku semalam, memberikan salam kesabaran dan ketabahan. Namun, ketukan ragu dan waham di pintu hati masih kuat. Persoalan itu juga masih lagi bermain di halaman kepala. Saat ini juga dada menjerit seperti ditekan dengan perlahan. Penantian. Ya itulah yang memijak dada. Bagaimana kuusir segala kenakalan yang sering menjahanamkan taman iman?
Adapun mimpi telah menggambarkan beberapa simpang yang dikelilingi pokok doa. Kemanisan buahan dan dedaunan jaya yang berguguran dapat kurasa. Dan menerusi perjalanan itu ada kulihat sinar kuning yang kurasa aman tika memandang. Seperti kirmizi yang sering kunanti disetiap senja. Kedengaran deru anginĀ seakan membisik itu seperti memberi ucapan kebahagiaan. Dingin. Tersangat dingin. Inilah ketenangan yang kunantikan.
Sedarku menghembus kecewa. Nampaknya aku masih diduga.
Duga belum, bernoktah, namun tiada duka yang abadi. Masanya pasti tiba~